This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 28 Juni 2012

Mubes ke V

`     Sabut (23/6/2012), Himpunan Mahasiswa Metemetika(HIMATIKA) Walisongo melaksanakan Musyawarab Besar (MUBES) V. Acara yang dimulai pukul 09.00 itu diselenggarakan di Auditorium I kampus I.
Menurut Nur Saifi, ketua umum Himatika periode 2011/2012, kegiatan yang diikuti seuruh pengurus Himatika ini merupakan agenda tahunan. Kegiatan tersebut, tambahnya sebagai rapat laporan pertanggung jawaban (LPJ). Ia juga melaporkan, tidak semua kegiatan dapat terrealisasi, manun sudah mencapai 80 persen yang terlaksana.
Selain LPJ, dalam mubes ini jua dibahas tentang Anggaran Dasar(AD)/Anggaran Rumah Tangga (ART) yang digunakan sebagai pedoman bagi Himatika satu tahun kedepan.
Saifi, panggilan karabnya menggungkapkan, terdapat perbedaan Mubes tahun ini dengan Mubes sebelumnya. Ia melanjutkan, pada tahun ini dilakukan pemilihan  ketua umum secara demikratis.
“Kali ini ketua umum dipilih semua mahasiswa matematika,” ungkapnya.
Pasalnya, untuk tahun-tahun sebelumnya ketua umum dipilih melalui Mubes. Hannya pengurus saja yang menggunakan hak pilih.

Minggu, 17 Juni 2012

Pragmatisme Mahasiswa


DAPAT mengenyam pendidikan tinggi merupakan dambaan bagi setiap orang. Bahkan ada yang berpandangan, kuliah adalah prestise karena dapat mendongkrak status sosial seseorang. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin tinggi pula status sosialnya di masyarakat.  Perguruan tinggi tak ubahnya ”sesembahan” yang menjadi tumpuan harapan bagi pemujanya, mahasiswa.

Banyak orang tua menggantungkan harapan bagi anak mereka terhadap perguruan tinggi. Berapa pun biaya akan dikeluarkan asal anak mereka bisa masuk perguruan tinggi. Harapannya, biaya  itu akan tertebus jika sang anak berhasil mendapatkan pekerjaan yang layak usai memperoleh gelar sarjana. Gelar sarjana dianggap sebagai jaminan untuk memperoleh pekerjaan.

Pemujaan terhadap gelar menggiring mahasiswa berpikir pragmatis. Konsentrasi mahasiswa bukan pada bagaimana menjalani proses kuliah serta mendalami disiplin keilmuan yang dimiliki semaksimal mungkin.

Namun, lebih terfokus pada bagaimana mendapatkan gelar secepat mungkin sebagai syarat memperoleh pekerjaan. Dengan kata lain, mahasiswa lebih mementingkan ”hasil” dari pada ”proses”.

Akhirnya banyak mahasiswa memilih jalan instan dalam memperoleh gelar atau ijazah. Tak heran jika saat ini marak terjadi kasus jual beli ijazah. Bahkan, banyak berkembang perguruan tinggi swasta yang menjanjikan mahasiswanya dapat memperoleh gelar dalam waktu singkat.

Kuliah sejatinya tak semata untuk memperoleh gelar atau pekerjaan. Lebih dari itu, kuliah pada hakikatnya adalah untuk mengembangkan diri serta membangun kecakapan berpikir.

Dengan kemampuan itu, mahasiswa diharapkan bisa mengaplikasikannya untuk melakukan perubahan di tengah masyarakat. Kecakapan berpikir meniscayakan seorang mampu mengurai dan memecahkan permasalahan yang terjadi di masyarakat.

Tentunya, kemampuan itu tak bisa diperoleh secara instan. Melainkan melalui proses yang panjang dan serius.

Orientasi mahasiswa mestinya bukan pada perolehan gelar atau ijazah yang mendorong mereka berpikir pragmatis, namun pada target penguasaan keilmuan dan pengembangan diri sebagai bekal untuk mengarungi hidup di masa datang. (24)