DAPAT mengenyam pendidikan tinggi merupakan dambaan bagi setiap orang. Bahkan ada yang berpandangan, kuliah adalah prestise karena dapat mendongkrak status sosial seseorang. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin tinggi pula status sosialnya di masyarakat. Perguruan tinggi tak ubahnya ”sesembahan” yang menjadi tumpuan harapan bagi pemujanya, mahasiswa.
Banyak orang tua menggantungkan harapan bagi anak mereka terhadap perguruan tinggi. Berapa pun biaya akan dikeluarkan asal anak mereka bisa masuk perguruan tinggi. Harapannya, biaya itu akan tertebus jika sang anak berhasil mendapatkan pekerjaan yang layak usai memperoleh gelar sarjana. Gelar sarjana dianggap sebagai jaminan untuk memperoleh pekerjaan.
Pemujaan terhadap gelar menggiring mahasiswa berpikir pragmatis. Konsentrasi mahasiswa bukan pada bagaimana menjalani proses kuliah serta mendalami disiplin keilmuan yang dimiliki semaksimal mungkin.
Namun, lebih terfokus pada bagaimana mendapatkan gelar secepat mungkin sebagai syarat memperoleh pekerjaan. Dengan kata lain, mahasiswa lebih mementingkan ”hasil” dari pada ”proses”.
Akhirnya banyak mahasiswa memilih jalan instan dalam memperoleh gelar atau ijazah. Tak heran jika saat ini marak terjadi kasus jual beli ijazah. Bahkan, banyak berkembang perguruan tinggi swasta yang menjanjikan mahasiswanya dapat memperoleh gelar dalam waktu singkat.
Kuliah sejatinya tak semata untuk memperoleh gelar atau pekerjaan. Lebih dari itu, kuliah pada hakikatnya adalah untuk mengembangkan diri serta membangun kecakapan berpikir.
Dengan kemampuan itu, mahasiswa diharapkan bisa mengaplikasikannya untuk melakukan perubahan di tengah masyarakat. Kecakapan berpikir meniscayakan seorang mampu mengurai dan memecahkan permasalahan yang terjadi di masyarakat.
Tentunya, kemampuan itu tak bisa diperoleh secara instan. Melainkan melalui proses yang panjang dan serius.
Orientasi mahasiswa mestinya bukan pada perolehan gelar atau ijazah yang mendorong mereka berpikir pragmatis, namun pada target penguasaan keilmuan dan pengembangan diri sebagai bekal untuk mengarungi hidup di masa datang. (24)